Lahir dari keluarga pecinta musik, tiga bersaudara ini sudah dikenalkan musik
oleh orang tuanya sejak dini. Mulai dari les piano, belajar musik tradisional,
main gitar, hingga ngeband mereka lakonin. Tak heran jika mereka mempunyai
passion yang besar di musik. Beranjak remaja, mereka pun mulai menjajal
kemampuan di panggung pensi (pentas seni) sekolah, kegiatan gereja, dan
festival musik. Konsep musik yang mereka usung adalah acoustic/country dengan
dominasi instrumen gitar.
Awalnya mereka membawakan lagu-lagu dari John Mayer,
Justin Nozuka, hingga Poema. Sejalan dengan meningkatnya jam terbang, mereka
pun membawakan lagu-lagu sendiri saat manggung. Tak hanya menyanyi, mereka juga
belajar hal-hal yang terkait di industri seperti menulis dan mengaransemen
lagu, seni manggung, dan yang tak kalah penting adalah bagaimana menyebarkan
karya mereka ke publik. Pendek kata, di usia yang masih belia, mereka sudah
belajar dengan serius layaknya seorang profesional.
Di era digital ini, tak dipungkiri bahwa media sosial menjadi media yang ampuh
untuk berpromosi. Dalam waktu singkat TheOvertunes mendapatkan pengakuan
publik. Loyal fans terbentuk dan bertambah dari waktu ke waktu. Tunist,
demikian sebutan untuk penggemar, menjadi bagian yang tidak dipisahkan dari
TheOvertunes.
“Kami beruntung mempunyai fanbase Tunist yang solid dan selalu mendukung kami.
Hubungan kami akrab, mereka bagian dari keluarga besar kami. Keberadaan mereka
membuat kami semakin bertanggung jawab untuk tampil lebih baik lagi,” ungkap
Mikha dan diamini oleh Reuben dan Mada.
Keikutsertaan Mikha di X Factor Indonesia semakin mendongkrak popularitas
TheOvertunes. Bahkan TheOvertunes didaulat untuk tampil di panggung X Factor,
menginterpretasikan lagu rock yang terkenal berjudul Mungkin Nanti. Pujian
mengalir dan berimbas pada meroketnya nama mereka secara viral di media sosial.
Tak lama setelah Mikha tereliminasi dari X Factor Indonesia, mereka langsung
mendapatkan kontrak dari Sony Music. Bergabung dengan major label memberikan
kesempatan pada mereka untuk lebih mengeksplorasi potensi yang ada pada mereka.
“Kita sangat excited untuk belajar, apalagi teknologi membuka banyak kesempatan
pada kami untuk menyerap banyak ilmu. Tapi semua ini kita pelajari ngalir saja,
jadi tetap have fun,” jelas Reuben.
EP Album – Sayap Pelindungmu
Kiprah TheOvertunes ditunjukkan dengan dirilisnya karya perdana mereka, sebuah
EP ( Extended Play ) atau yang biasa dinamakan mini album bertajuk Sayap Pelindungmu.
EP ini resmi diluncurkan pada 4 Desember 2013. Dikemas dengan artwork bergaya
hip dan urban, menampilkan dua track yaitu Sayap Pelindungmu ( Centre Of
Gravity ), dan Soulmate ( dalam dua versi ). Sayap Pelindungmu adalah ciptaan
musisi terkenal Ben Earle dan Daniel Neil McDougall. Aslinya lagu ini berjudul
Centre Of Gravity, yang kemudian diadaptasi ulang oleh TheOvertunes sendiri.
Lagu ini mempunyai cerita unik saat proses pembuatan liriknya. Mereka
kebingungan mencari kata yang tepat sebagai judul dan isi lagu ini. Saat
kehabisan ide, datang usulan dari sang Mama untuk memakai kata Sayap
Pelindungmu. Setelah diresapi, dua kata ini memang yang paling cocok mewakili
lagu ini, karena maknanya bisa universal. Yang menariknya, ada tanda khusus
diantara mereka dan para Tunist yaitu dengan menautkan kedua ibu jari dan
dikepakkan seperti sayap burung.
Lagu Soulmate yang diciptakan oleh Aries Noor adalah lagu yang dibawakan Mikha
dan masuk dalam album kompilasi X Factor. Lagu dengan gaya pop ini dibawakan ulang
oleh TheOvertunes dengan versi akustik. Hasilnya lebih keren dan akrab di
telinga pendengar. Di lagu ini membuktikan bahwa Mikha tidak hanya piawai
menyanyi tetapi juga memainkan gitar.
Terpilih
Sebagai Artist Pertama di Indonesia
Dengan dukungan Tunist yang begitu solid, dan juga kegiatan viral melalui media
sosial yang begitu kuat ( beberapa kali menjadi Trending Topic di twitter ),
semakin memperkuat nama TheOvertunes dan membuahkan hasil yaitu didaulatnya
mereka sebagai Fender Artist pertama di Indonesia.
“Asia Tenggara adalah pasar musik yang penting bagi Fender. Dan kami bangga
dapat bekerja sama dengan salah satu artis berpotensi Sony Music Indonesia.
TheOvertunes adalah band bersaudara yang tumbuh pada era dimana musiknya
sejalan dengan Fender. Jenis musik terus berubah dari jaman ke jaman dan produk
Fender terus mendukung dan menginspirasi musisi di seluruh dunia. Mengapa
Fender memilih Mikha, Reuben dan Mada? Karena musik mereka unik yaitu musik
yang eklektik, campuran dari musik folk dan pop, dan dibawakan secara khas oleh
mereka,” jelas Graham Perkins – Director for Market Development, Asia.
Sayap Pelindungmu ini baru awal perjalanan TheOvertunes, tetapi mereka percaya
bahwa kepakan sayap mereka akan membawa mereka pada pengalaman-pengalaman baru
yang lebih luas. Keinginan mulia mereka untuk memberikan kontribusi positif
pada dunia melalui musik perlu kita dukung dan apresiasi.
Mikha Angelo
Twitter : @Angelo_Mikha
Mikha Angelo ( Lahir 8 November 1997 ) adalah vokalis utama TheOvertunes. Dalam
band, Mikha juga memainkan instrumen musik dari guitar dan piano sambil
bernyanyi. Mikha adalah anak ke 3 dari 4 bersudara keluarga Brahmantyo. Berusia
15 tahun, Mikha sudah masuk sebagai salah satu mahasiswa audio engineering,
kuliah di SSR Jakarta. Nama Mikha Angelo sendiri mulai populer sejak awal tahun
2013, dimana ia mengikuti ajang televisi X-Factor Indonesia dan berhasil lolos
empat besar. Tunist pencinta Mikha Angelo menyebut diri mereka sebagai Djimbas.
Mada Emmanuelle
Twitter : @MadaEmmanuelle
Mada Emmanuelle ( lahir 2 Juni 1994 ) adalah bassist utama TheOvertunes. Mada
mengawali bermusik dengan bermain piano dan drum, sebelum akhirnya beralih ke
bass. Saat ini Mada sedang mengambil kuliah jurusan arsitektur di Universitas
Binus Jakarta. Tunist pencinta Mada Emmanuelle menyebut diri mereka sebagai
Madness.
Reuben Nathaniel
Twitter : @Reu_nathaniel
Reuben Nathaniel ( Lahir 10 Oktober 1996 ) adalah gitaris utama di
TheOvertunes. Selain bermain gitar, anak ke dua dari 4 bersaudara ini juga bisa
bermain bass dan piano. Saat ini, Reuben sedang mengambil kuliah managemen
bisnis di Unisadhuguna International College, Jakarta. Tunist pencinta Reuben
Nathaniel menyebut diri mereka sebagai Reulettes.
Untuk informasi lebih lanjut:
Sony Music Entertainment Indonesia
JL. Johar no. 13, Jakarta Pusat.
Info from :
@SonyMusicID | @nabiltaufik