Tampilkan postingan dengan label HIMusiklopedia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HIMusiklopedia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Januari 2015

HIMusiklopedia2014 : trend, media, artist of the year, prediksi




IIIHIMusiklopedia2014


Pengantar :
Sudah menjadi tradisi penulis untuk merilis artikel spesial tutup tahun dengan menuliskan kembali secuplik kilas balik perjalanan musik tanah air yang mewarnai tahun 2014. Meski tidak sepanjang edisi tahun-tahun lalu dikarenakan kesibukan penulis, namun kiranya dapat bermanfaat dan memberi inspirasi bagi para pembaca, penikmat, maupun praktisi musik sekalian dalam menatap perkembangan industri hiburan di tahun 2015 kelak.
Special thanks dan penghargaan khusus dari saya pribadi buat dukungan 2 perusahaan rekaman yang senantiasa dan hingga kini masih meng-update materi fisiknya langsung via pos ke rumah penulis, yakni : Seven Music @sevenesia dan Universal Music Indonesia @Universal_Indo
#BanggaMusikIndonesia


Trend

Prediksi bahwa musik dangdut merajalela di tahun 2014 ini, setidaknya terbukti di layar kaca. Banyak program variety show televisi yang menyuguhkan "music of my country" ini sebagai penarik massa dan pengerek rating. Dari kontes dangdut sampai dangdut challenge yang diikuti banyak pejabat. Lalu di penghujung tahun 2014, videoklip "Sakitnya tuh disini" berhasil menyabet jutaan viewer di YouTube dan banyak yang membuat visual parodinya. Nggak hanya video, keberhasilan singel ini pun ternyata ada "follower"-nya dalam bentuk judul lagu, yakni : "Sakitnya disini" oleh : Trio Lestari ) dan "Atitnya tuh disini" ( oleh : Cita-citaku, plesetan dari nama penyanyi Cita Citata ).

Sementara untuk musik pop, entah kenapa penulis rasakan stagnan perkembangannya, terutama saat perhatian publik dari awal hingga kwartal ketiga tahun 2014 lebih tersedot ke urusan pemilu legislatif maupun presiden. Banyak musisi lokal yang sebelumnya ogah turun ke pusaran hingar bingar politik, tahun 2014 bisa dibilang awal partisipasi aktif mereka untuk menunjukkan dimana mereka berpihak.

Bila dari segi capres ada kubu Prabowo vs Jokowi, maka di lingkungan musisi ada "pertarungan" publisitas di jagat media sosial antara fans Slank vs Ahmad Dhani. Dari yang kreatif sampai yang konyol pun ada, he3... Puncaknya tentu saja : konser rakyat di Gelora Bung Karno beberapa hari jelang pencoblosan pilpres yang begitu meriah sekaligus mengharukan karena didukung atas dasar spontanitas dan dukungan banyak relawan.

Sempat vakum beberapa saat, MTV Indonesia kembali tayang dengan strategi baru yakni menggandeng beberapa stasiun tv lokal. Geliatnya mungkin tidak terasa menasional, namun penulis rasa basis pemirsa MTV Indonesia kali ini memang pasarnya ada di daerah.


Media

Pembajakan ? RBT ? Dengan hadirnya layanan 4G LTE yang siap digelar operator telekomunikasi selular akan mengubah cara label maupun musisi tanah air dalam mendulang pemasukan. Integrasi pemasaran lewat forum media sosial bakal lebih agresif. Konten yang sulit didapatkan para fans via media konvensional seperti koran, radio, dan tv akan disediakan lebih interaktif lagi secara eksklusif lewat smartphone / tablet. Oh ya, dinanti langkah para label untuk mensosialisasikan fitur ala iTunes dalam memasarkan lagu2 para artis yang dinaunginya.

Koneksi 4G juga akan merevolusi industri radio dalam merengkuh jumlah pendengarnya, dari sekedar lokal segmented menjadi global integrated. Yang tadinya berdasarkan jaringann siar terbatas dengan karakter budaya tertentu, kini lintas batas negara dengan kesamaan taste dengaran. Sebagai contoh mungkin bisa disurvei berapa banyak pendengar dari Malaysia dan Singapura yang memantau streaming radio2 Indonesia untuk mendapatkan singel2 fresh maupun variatif karya anak negeri ?

Btw, saya saja belakangan ini lebih betah ngupingin radio2 daerah, khususnya Bandung dan Cirebon yang format program dan playlist racikan para MD-nya lebih pas dengan "selera" saya, he3... Nach jadinya saya baru tahu loch, ternyata ada beberapa radio Jakarta di tahun 2014 ini yang melakukan "re-branding" konsep siarannya, meski masih ada juga loch yang mengambil sikap idealis.

Untuk media konvensional, khususnya majalah, penulis sich berharap mereka bisa memunculkan jurnalis handal khusus musik dan tetek bengeknya. Apresiasi masyarakat tentang musik dalam negeri yang tergolong rendah ini bisa jadi karena kontribusi pengamat musik yang berwawasan luas,  independen, dan disegani masih kurang signifikan. Selama ini mereka baru sebatas dimintakan komentarnya atas sebuah fenomena musik sebagai pengisi acara dialog televisi atau menuliskan uneg-unegnya dalam kolom artikel, namun kiprah mereka masih dianggap orang “luar” oleh pelaku industri musik kita, bukan sebagai partner seimbang bagi katakanlah praktisi label rekaman atau broadcaster.



Yearly chart #HIMpersada2014

Yearly chart #HIMbuzz2014



Artist of the year

Tulus. Yup, tanpa basa-basi penulis menobatkan penyanyi pria ini sebagai musisi tanah air yang berkibar di tahun 2014. Agak terseok-seok di singel perdananya “Baru”, namun kemudian melesat dengan lagu keduanya yang begitu fenomenal “Jangan cintai aku apa adanya” menjadi top playlist di berbagai stasiun radio. Selanjutnya menjadi relatif mudah baginya untuk memperkenalkan materi2 dengaran dari album bertajuk “Gajah” ini. Meski materi dengaran karya Tulus ini oleh sebagian kalangan ditujukan bagi pasar kelas menengah (atas), namun memang karakter vokalnya inilah yang menjadi pembeda unik setelah pasar musik dalam negeri terlanjur lama dibuai oleh cita rasa suara “mainstream” ala Afgan maupun Judika.

Noah. Sorry to say, debut album yang diluncurkan sekitar Lebaran itu tidak mendapat sambutan meriah dari penikmat musik dalam negeri. Perubahan konsep yang lebih nge-rock ternyata dirasa tidak pas dengan karakter grup band asal kota kembang ini. Dan di penghujung akhir tahun 2014, mereka kehilangan salahsatu personelnya di posisi drummer yang memutuskan hengkang.

Cita Citata. Lewat tembang dangdut andalannya “Sakitnya tuh disini” yang meluncur di awal kwartal keempat tahun 2014, namanya pun kian dikenal publik. Seperti sudah menjadi rumus umum, popularitas artis mendongkraknya menjadi bintang iklan dan terpaan gosip kehidupan pribadinya pun mulai dikorek berbagai media infotainment.

Anyway, kalau dalam 3 alinea diatas membahas tentang penyanyi solo pria, grup band, dan penyanyi dangdut, lalu bagaimana dengan “prestasi” penyanyi solo wanita ? Bila menyimak juara berbagai kontes nyanyi di layar kaca yang akhir ini dominan dimenangkan oleh kaum hawa, harusnya potensi mereka untuk berbicara lebih banyak di industri musik tanah air terbuka luas. Namun bila ditilik lebih lanjut, lagi2 stok yang relatif “berbunyi” di tahun 2014 sebatas : Raisa, Fatin, Bunga Citra Lestari, dan Rossa. Sebenarnya ada juga Gita Gutawa, namun beberapa singel hits-nya di tahun 2014 ini tidak terlalu nendang untuk di-“follow”.


Prediksi

Frekuensi konser artis mancanegara yang lumayan "langka" sepanjang tahun 2014 dengan alasan keamanan sepertinya tidak akan terulang di tahun 2015. Lihat saja beberapa musisi kelas dunia yang rencananya manggung di kwartal pertama tahun depan, ada : Michael Buble, Lenny Kravitz, sampai One Direction. Juga beberapa artis K-Pop dijadwalkan masih wara-wiri mampir ke Indonesia untuk mentas lagi. Promotor konser bakal panen donk, he3...

Lalu dimana posisi artis musik kita untuk menyambut "kepungan" musisi impor ini ? Moga-moga Badan Industri Kreatif yang digagas pemerintahan Jokowi yang katanya segera bekerja awal tahun 2015 bisa menunjukkan kinerjanya dalam mengangkat demam I-Pop, minimal mewabah dulu di kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur yang secara kultural tidak jauh berbeda. Penerapan Free Trade Area di kawasan ASEAN mau tak mau bakal membawa dampak persaingan kian ketat bagi perkembangan industri musik tanah air.

Boyband dan girlband mewabah di tahun 2012-2013, dangdut merangsek lagi di tahun 2013-2014, lalu ada peralihan genre apa yang kiranya akan melanda industri musik di tahun kambing kayu ini ? Kembali ke 2 dekade lalu tepatnya di tahun 1995, kala itu musik pop progresif, nuansa elektronik, dan dance-able cukup menawarkan dinamika yang positif. Apakah hal itu akan terulang ? Setidaknya kesuksesan event Djakarta Warehouse Project di penghujung tahun 2014 seolah memberi indikasi ke arah sana. Kejenuhan akan musik mellow dan mendayu-dayu sepertinya akan tergantikan di tahun 2015 ini dengan musik bertempo medium / up beat. Semangat !!!


Disclaimer :
Dilarang keras mengutip sebagian dan/atau seluruh isi artikel ini untuk kepentingan komersial tanpa seijin penulis. @himfiles @himpublik


 

Sabtu, 04 Januari 2014

HIMusiklopedia 2013


IIIHIMusiklopedia2013
Facebook / Line / Twitter / YM : himfiles
 
 
 
# Meneropong penyanyi dan/atau musisi pendatang baru
 
Pencarian talenta menyanyi melalui reality show di layar kaca sepertinya masih dianggap sebagai cara pintas untuk mendongkrak popularitas generasi baru talenta olah suara. Dalam kurun waktu 3-4 bulan selama masa karantina dan eliminasi, sang kontestan dipoles ke hadapan pemirsa agar layak jual. Tentu saja bumbu dramatisasi dalam menentukan siapa yang melaju ke tahap berikutnya sepertinya bisa membentuk fanbase yang ikut bertarung mencari pengaruh di dunia maya.
 
Adalah kompetisi The X-Factor Indonesia di RCTI vs The Voice Indonesia di Indosiar yang tadinya diprediksi bakal berlangsung sengit, justru malah berjalan tak seimbang. Di panggung televisi, ternyata faktor kualitas suara bisa “ditumbangkan” oleh faktor psikologis emosional dalam mengerek perolehan sms dan rating. Lihat saja beberapa “insiden” drama seperti ada kontestan yang lupa lirik, tingkah juri yang terkadang konyol dalam memberikan opini atas penampilan peserta, sampai ke soal salah kostum pun dikomentari ( padahal hal teknis begini bisa “dipermak” sebelum peserta naik pentas ).
 
Tahun 2014 nanti RCTI akan menggelar kembali Indonesian Idol yang mudah-mudahan bisa mematahkan “kutukan” bahwa sang pemenang justru kalah pamor dengan runner-up ketika memasuki persaingan secara riil di blantika musik tanah air. Dan kesan bahwa sang runner-up juga nggak terlalu kinclong prestasinya dibandingkan dengan bakat yang ditemukan oleh label rekaman via “audisi” di YouTube, he3... Khusus season depan, menarik untuk dicermati apakah acara unggulan ini tidak disusupi oleh kepentingan politik tertentu.
 
Oh, ya di tengah meredupnya fenomena boyband/girlband racikan lokal – entah itu karena jenuh, materinya tidak lagi nendang, maupun ada personelnya yang memutuskan hengkang untuk bersolo karir – ada kiprah para jebolan acara bakat bernuansa K-Pop tahun 2012 yang lumayan mencuat di pertengahan tahun 2013 ini, yakni : S4 dan S.O.S. Jika menyimak hasil tempaan dan kerja keras mereka, rasanya tak berlebihan dengan menyitir ungkapan khas Bebi Romeo bahwa : “Papa bangga sama kamu” : )
 
 
# Media TV & radio
 
Acara musik pagi yang lumayan merajai beberapa tahun terakhir ini ternyata (masih) tidak cocok diformulasikan untuk slot prime-time televisi di malam hari. Lihat saja genre program layar kaca antara pukul 6 petang hingga 10 malam, rata-rata isinya sinetron, talkshow berita, atau varietyshow berbalut komedi ( slapstick ). Adapun acara musik seperti Indonesian Idol, The X-Factor, The Voice, Gebyar BCA, atau New AFI itu hanya program mingguan yang sifatnya pun musiman, bukan reguler tiap hari ada di jam tayang utama.
 
Untuk pelanggan tv berbayar lumayan mendapatkan porsi tontonan musik yang beragam, bisa dipilih antara : MTV, Channel [V], i-Concert, Trace, atau NatGeo Music. Sedangkan untuk konten musik tanah air tergantung operator pay-tv yang tersedia, misal : OrangeTV punya Dangdut Channel dan TopHits, Indovision memiliki saluran in-house MNC Music Channel, dan grup FirstMedia punya MIX dan Dangdut. Namun dari berbagai kanal lokal tersebut pun, penulis kira baru sebatas saluran “tempelan” yang lebih mirip sebatas pemutar videoklip ketimbang wadah tontonan apresiasi yang digarap serius.
 
Mayoritas stasiun radio pastinya masih menjadikan musik sebagai unggulan program siarannya. Untuk pendengar di Jakarta, sepertinya dengan karakteristik kaum urban maka kecenderungan beberapa pengelola radio mengubah format siaran yang tadinya segmented kemudian memutar haluan menjadi “hits player” seperti tidak terhindarkan. Secara pribadi bagi penulis sich yang demen ngupingin format radio di era 80-90an dari pagi sampai malam, maaf : kemasan rata2 radio ibukota sekarang jadinya membosankan !    
 
Untunglah dengan adanya berbagai aplikasi radio streaming yang terpasang di smartphone, pilihan penulis untuk mendapatkan rentang wawasan lagu yang lebih variatif bisa terakomodir. Tinggal search di TuneIn, Xiaa Live, Pandora Radio, atau Nux Radio, stasiun2 radio dari berbagai belahan nusantara hingga mancanegara bisa dinikmati.
 
Pergeseran cara menyapa penikmat radio bukan lagi secara personal, tapi lewat kontak status pesan di facebook atau live tweet. Beberapa announcer radio tidak lagi menempatkan diri sebagai teman sharing pendengar, namun asyik ngobrol dengan partner siarannya atau dengan celotehannya sendiri. Konten musik yang bejibun tidak diimbangi dengan informasi menarik di balik pembuatan lagu yang diputar itu sendiri, seakan menyebut judul dan nama penyanyi yang mempopulerkannya dirasa cukup memadai, padahal info tentang siapa pencipta lagunya, siapa yang mengaransemen lagunya, apa label rekamannya, dsb bisa jadi bentuk pengelola radio dalam mengapresiasi karya musik.

Dari hasil diskusi dengan seorang founder radio online beberapa waktu lalu, penulis menyimak masa depan stasiun radio ibukota bukan lagi di Jakarta, namun di pelosok daerah yang potensi iklannya lebih menjanjikan. Maklumlah, melihat gejala gaya hidup yang ada sepertinya penduduk Jakarta dan sekitarnya bukan lagi warga yang suka “mendengarkan”, melainkan suka “melihat”. Yang disetel bukan lagi perangkat radio, namun menikmati puluhan saluran tv berlangganan yang tarif abodemennya kian terjangkau.
 
 
# Sekilas fenomena 2013
 
Fatin Shidqia Lubis. Gadis berusia belia ini cukup menghebohkan The X-Factor Indonesia sejak tahapan audisi. Bahkan video cover version lagu “Grenade” dipasang pula pada situs resmi Bruno Mars, penyanyi lagu aslinya. Fenomena gerilya para Fatinistic membela idolanya ini tak kalah heboh di jejaring sosial, terlebih saat penyanyi idolanya dicap sering lupa lirik dan kualitas olah suaranya masih “mentah” saat live show. Namun mayoritas kritikan itu seolah mereda dengan sendirinya saat lagu perdananya “Aku memilih setia” dilepas ke berbagai stasiun radio dan berhasil memuncaki puluhan tangga lagu dalam waktu relatif bersamaan.
 
25 Agustus 2013. Setelah 20 tahun tragedi konser Lebak Bulus, Metallica datang kembali dengan membawa nostalgia masa muda para penggemarnya dengan mengembalikan imej bahwa nonton konser rock metal tak perlu sampai anarkis dan bikin rusuh khan. Bagi para penikmat musik cadas dan rata2 pengamat musik pasti setuju bahwa ditengah serbuan acara manggung artis2 K-Pop, konser mereka di stadion utama Gelora Bung Karno layak dinobatkan sebagai konser terbaik di tahun 2013, bahkan ada yang berani menyebut penampilan mereka sebagai konser terbaik di tanah air sepanjang 1 dekade terakhir ini. Wow ! ( NB: sayangnya AeroSmith gagal mentas di Jakarta )
 
Sementara itu konser musisi dan grup band Indonesia sendiri beritanya masih kurang menggembirakan. Disamping kabar bentrokan antar penggemar sendiri, pula mental penonton yang maunya gratisan, kadang membuat suasana di sekitar panggung menjadi kurang nyaman. Karcis sudah ludes, tapi mereka tetap memaksa masuk tanpa bayar untuk menyaksikan musisi kesayangannya tampil.   
 
Sempat ada kisah memprihatinkan tentang salahsatu musisi band yang disiram air keras. Pula kontroversi kepantasan gratifikasi tentang pemberian gitar dari personel Metallica kepada pakde Jokowi, gubernur DKI Jakarta. Noah dan Slank dibuatkan film semi-dokumenter nich.  Khusus Slank yang “nggak ada matinya” itu, salam peace-love-unity-respect buat konser perayaan ulang tahunnya yang ke-30 di GBK Senayan.
 
Setelah sukses menggelar acara ultah “X-Factor around the world” Agustus 2013 lalu, mungkinkah RCTI akan membuat program berkonsep serupa dengan tajuk “Idols around the world” yang mempertemukan beberapa pemenang kontes serupa di mancanegara dalam satu panggung ? Last but not least, jangan lupa setelah demam tarian Gangnam style di tahun 2012, maka di tahun 2013 ada kehebohan “Harlem shake”, yang sepertinya menularkan trend acara joget massal di layar kaca belakangan ini.
 
 
# Merekam industri musik
 
Apa kabar industri musik rekaman nasional kita ? Berkaca dari ditutupnya outlet Aquarius Mahakam, tampaknya memang recording label kita tak bisa menghindari lagi untuk menempuh penjualan lagu secara digital. Mengharapkan masyarakat dididik untuk membeli ( baca : mengunduh )  secara legal mungkin tidak bisa dalam waktu singkat, tapi itu harus segera dimulai bila tak mau industri rekaman berdarah-darah terus. Dengan akses internet yang kian cepat dan terjangkau, seharusnya tidak ada kendala dalam jalur distribusi online, problemnya adalah ketegasan (perangkat) hukum.
 
Sudah berulangkali ada seruan untuk memberantas pembajakan, namun masih sebatas normatif di ucapan belum di tindakan, padahal aturan hukumnya sudah ada. Pada akhirnya sebuah  lagu bukan lagi dianggap sebagai pencapaian seni yang mesti dihargai karya ciptanya, namun tools pemasaran agar sang musisi mendapat panggilan manggung. Label rekaman yang tadinya fokus sekedar memproduksi album, kini harus memasuki ranah manajemen artis pula agar bisa survive.
 
Kita tidak lagi mendengar pencapaian prestasi seperti : oh si penyanyi A atau grupband Z mendapatkan penghargaan multi platinum karena berhasil menjual ratusan ribu hingga jutaan copy. Atau lagu si artis berhasil menduduki chart radio2 bergengsi selama beberapa minggu. Tolok ukurnya berganti menjadi bahwa tembang si artis sukses bertengger di peringkat papan atas RBT operator selular tertentu. Btw, omong2 soal layanan RBT, cuplikan lagu hits apa yang pembaca pasang belakangan ini di handphone sebagai nada dering ?
 
Kecenderungan yang penulis amati belakangan ini, beberapa label rekaman pun kini merambah bisnis EO konser artis dan memproduksi film berikut soundtracknya. Untuk mendukung line-businness baru ini, mereka memperkuat basis penggemar dengan eksis berinteraksi di jejaring sosial sampai chat forum messenger. Sesuatu yang mungkin dulunya hanya sebatas bikin fansclub, tapi kini adalah memelihara pasar industri itu sendiri agar tidak tergerus oleh banjirnya para artis2 pendatang baru di kemudian hari.
 

# Label & artist management
 
Diantara duel SM*SH versus CherryBelle, ada Coboy Junior dan JKT48 yang berhasil mencuri ceruk pasar boyband/girlband tanah air. Mengenai JKT48, kiprah girlband yang bersaudara dengan AKB48 ini sukses merebut penghargaan Yahoo! Indonesia sebagai sosok yang memiliki komunitas “die-hard fans” yang menggurita dan luar biasa eksis. Lihat saja dengan jumlah personel grup mereka yang lumayan terbilang “keroyokan” yang bagi sebagian orang membingungkan, tokh justru menjadi sumber inspirasi buat dikomersilkan lewat penjualan buku profil yang bisa didapatkan bagi para penggemarnya.
 
Bukan jualan kaset, tapi jualan merchandise. Inilah lahan pemasukan baru yang sepertinya kurang diantisipasi oleh kebanyakan manajemen artis kita. Lihat saja Agnes Monica yang terbilang piawai “menjual” namanya untuk dijadikan model iklan berbagai produk sampai merilis varian parfum dengan brand-nya sendiri, meski yach sori nich langkah awalnya untuk “go international”-nya dengan membuat album di mancanegara tergolong kurang sukses.
 
Kecenderungan melakukan penjualan cd fisik lewat jaringan minimarket dan restoran fastfood pun belakangan ini dapat dibilang tergolong stagnan. Selain nyaris tanpa ada terobosan baru, cd fisik belakangan ini bukan prioritas kebutuhan bagi pelanggan yang datang ke outlet mereka. Malah bisa jadi untuk sebagian konsumen akan merasa bete kalau tiap berhadapan dengan kasir harus menghadapi tawaran untuk membeli koleksi cd yang konten lagunya pun belum pernah didengarnya. Namun tantangannya adalah dengan semakin bagusnya koneksi internet, alunan lagu tidak lagi sebatas disimpan dalam format audio umum seperti mp3, bahkan tampilan visual videoklip musisi yang tadinya dimaksudkan sebagai materi promo di dunia maya pun kini bisa diunduh dengan mudah sebagai koleksi. Sebuah dilema ?
 
Meski mungkin tidak terlalu vulgar terendus seperti lakon para artis sinetron, tak bisa dipungkiri ada beberapa manajemen artis yang melancarkan modus “settingan” untuk mendongkrak popularitas penyanyi dan/atau grupband asuhannya dengan cara memunculkan kisah “kontroversial” supaya mendapat liputan luas oleh awak media hiburan. Yang paling mudah tentu memanfaatkan polemik di dunia maya supaya lekas menjadi trending topic, misalnya si penyanyi A punya konflik dengan musisi B dan mengumbarnya di twitter. Bila tergolong “parah”, siap2 saja pewarta infotainment akan dengan “senang hati” mengundang mereka yang bertikai untuk tayang di slot programnya. Tapi tetap saja yang paling mengena sebagai senjata ampuh agar sang musisi mendapat tempat di hati penggemarnya adalah : karya2 lagu hits fenomenal mereka.
 
 
# Secercah prediksi 2014
 
Tahun 2014 kali ini diidentikkan dengan tahun pemilu nasional, tahun pemberlakukan BPJS, tahun bola seiring Piala Dunia di Brazil, dan untuk industri musik tanah air : inilah tahun kebangkitan musik dangdut ! Mengapa penulis pakai tanda seru, karena kalau menurut salahsatu judul lagunya Project Pop : dangdut is the music of my country. Yup, saatnya dangdut kembali menjadi tuan rumah dan musik yang dihormati di negerinya sendiri. Syukur2, dangdut bisa jadi komoditas ekspor industri kreatif unggulan selain sinetron2 yang kini banyak tayang di beberapa negara tetangga, he3...  
 
Tahun2 sebelumnya, ranah blantika tanah air dibanjiri oleh genre musik pop melayu sampai boyband/girlband yang mengacu ke K-Pop. Menurut beberapa music director yang penulis ajak sharing bilang bahwa ada peningkatan kiriman materi lagu dangdut dari produser rekaman ke stasiun radionya akhir2 ini. Gejala kembalinya dangdut bakal hapenning tersebut juga penulis rasakan saat menerima banyak artikel press rilis untuk diunggah ke blog jelang tutup tahun 2013 ini.
 
Booming-nya lagu “Buka dikit joss” yang dilantunkan oleh Juwita Bahar dengan gimmick demam joget yang “diaransemen” oleh Cesar @YuKeepSmile_TTV ( acara yang juga turut mengembalikan popularitas lagu lawasnya bang Rhoma Irama : “Kata Pujangga” ), tak pelak ikut mengerek tembang hits dangdut lainnya yang sudah bikin heboh di daerah2 untuk naik ke level nasional seperti : Kereta malam ( Imelda ), Bang Jali ( Lynda Moymor ), dan Direject aja ( Jenita Janet ). Jadi terkenang sekitar beberapa tahun lalu waktu, saat lagu2 dangdut seperti : “SMS”, “Keong racun”, “Pacar lima langkah”, dan “Alamat palsu” menjadi best seller di kancah bursa nada sambung : )
 
Prediksi bakal mewabahnya musik dangdut di tahun 2014 ini pun sepertinya kian terdongkrak oleh banyaknya tim sukses para caleg yang akan memakai jasa para penyanyi dangdut tersebut untuk mencairkan suasana kampanye lapangan, mulai merekrut dari yang kelas elite hingga kasta organ tunggal. Numpang curhat dikit : sebenarnya penulis kangen loch dengan genre dangdut konvensional yang mengusung alunan suling dan gendang sebagai instrumen utamanya, bukan yang di-remix koplo ( atau yang dipermak oleh house music ) seperti sekarang, he3...
 
Jadi apakah anda termasuk yang setuju kalau tahun 2014 adalah : the return of dangdut ? Siap digoyang ngebor, goyang ngecor, goyang gergaji, goyang patah-patah, goyang iwak peyek, goyang itik, goyang oplosan, goyang yang iya-iyalah, dan varian goyang2 lainnya ? Tarik mang ... : )