Tampilkan postingan dengan label HIMfamilyman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HIMfamilyman. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Februari 2011

HIMfamilyman : the education

Anakmu bukan anakmu. Demikianlah kalimat bijak yang kalau tak salah diucapkan oleh sang pujangga Khalil GIbran. Dalam adat istiadat atau norma agama, posisi anak sering juga dianggap sebagai titipan Tuhan yang diberikan kepada keluarga untuk dijaga dan dirawat. Dibesarkan dalam suatu keteladanan.
Saat cek gambar beberapa rekan yang udah gabung di list FS penulis, ternyata banyak juga yang sudah pasang gambar berdua ( artinya bisa macam-macam, sudah punya pacar atau sudah kawin ), masih sendiri ( entah jomblo atau emang lagi ngincer sohib di jaringan FS-nya ), atau mencantumkan foto bayinya ( huff… akhirnya “jagoan” gue lahir, he he… )
Omong2 soal pose sang ayah baru dengan bayinya ini, tentu maksudnya untuk “mereportasekan” kabar update soal bertambahnya lagi anggota keluarganya. Dan seperti yang sudah ditulis dalam edisi sebelumnya, anak yang terlahir normal patutlah disyukuri dan dibanggakan. Artinya Tuhan sudah memberi kepercayaan kepada mereka untuk merawat sebuah kehidupan di muka bumi ini.
Dan salahsatu jenis “perawatan” tersebut adalah melalui jalur pendidikan. Saat penulis masih kecil, belum ada tuch yang namanya kelas playgroup. Namun sekarang lihatlah, begitu menjamurnya lembaga pendidikan yang menerima siswa balita yang untuk berbicara pun masih sulit, eh dijejali dengan konsep edukasi bilingual segala. Katanya biar si anak sudah dipersiapkan dari awal agar bisa siap bersaing di era “go international” ini. Maka berduyun-duyunlah para ortu, terutama sang ibu yang ingin anaknya sukses mendaftarkan balitanya untuk “diprogram” jadi orang sukses sejak usia dini ini, sementara sang ayah hanya bisa geleng2 kepala melihat tariff pendidikan sang anak yang rata2 relatif mahal untuk memenuhi kebutuhan edukasi tersebut. J

HIMfamilyman : the figure

Memiliki anak, siapa sich suami istri yang tidak menginginkannya ? Ada rasa rindu tentunya bila usia pernikahan sudah merangkak dalam hitungan tahun namun belum juga diberi keturunan. Terutama bagi kalangan suami, ingin rasanya ada seseorang yang memanggilnya : papa ! Yup, naik tingkat menjadi seorang ayah bukan perkara mudah, bila selama ini tanggungjawabnya hanya sekedar membahagiakan istri, eh anda akan mendengar pula tuntutan dari ortu dan mertua : “kapan nich kita bisa nimang cucu ?”
Apakah akan berbeda rasanya bila anda melihat hanya seorang ibu membawa anaknya jalan-jalan di mal dengan seorang ayah melakukan hal yang sama pada anaknya ? Mungkin fenomena ini kerap anda lewatkan, tapi sesekali coba dech mengamati gerak seorang lelaki berumur yang menggandeng tangan anaknya. Mungkin peribahasa bisa mengungkapkan kalimat ini : “kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang jalan” untuk menegaskan betapa kasih seorang ibu begitu dahsyatnya. Meski demikian, jangan salah bapak juga punya tingkat rasa sayang yang tak kalah hebatnya dengan ibu.
Like father, like son. Walaupun masa kecil sang anak tidak persis sama dengan masa muda sang ayah, yang pasti gen kemiripan karakter itu pastilah ada. Namun anak tetaplah anak, bukan orang dewasa berukuran mini. Jadi kalau ada seorang anaknya tertimpa masalah dengan rekan sebayanya, pastilah sang ayah akan membela habis-habisan. Tetapi bila anaknya yang dianggap sebagai biang masalah, sebagai ayah pastilah dirinya akan berjuang habis-habisan kalau perlu dirinyalah yang dihukum dan bukan si anak.
Meski ada beberapa bapak jarang memuji kalau sang anak berprestasi, namun tak diragukan pastilah ada binar kebanggaan dimatanya sambil mungkin sedikit bergumam,”Anak siapa dulu donk ?!” Atau kalau bapak menghajar sang anak bukan berarti menginginkan anak tersebut cedera atau terluka, pasti didalam hatinya pun perasaannya pun sebenarnya tak tega untuk melakukan hal tersebut.
Sayangnya figure bapak dirusak oleh pengalaman dari lingkungan sekitar dan juga penggambaran buruk oleh media massa. Ayah berjudi, tukang mabuk, suka main perempuan, berpoligami, dan sebagainya menyebabkan peran ayah tercoreng di mata anak, sehingga banyak dari mereka yang akhirnya bersikap lebih baik sendiri ( karena trauma bila satu hari kelak berperan sebagai ayah atau punya suami seperti ayahnya ) atau bahkan malah berperilaku menyimpang. Para ayah, cobalah barang sejenak membacakan sebuah cerita dongeng sebelum anakmu terlelap tidur. Lalu tinggalkan dia sambil mengecup keningnya. Berdoa bahwa kehadirannya adalah suatu anugrah luar biasa dari Yang Maha Pencipta. Berharap yang terbaik untuknya.

HIMfamilyman : the hobby

Men are from Mars, Women are from Venus. Demikian judul buku larisnya John Gray. Tentu ungkapan ini dimaksudkan bahwa yang namanya pria dan wanita itu berasal dari dunia yang berbeda dengan karakter masing2 yang unik. Justru karena perbedaan itulah makanya mereka saling tertarik mendalami kepribadian pasangan. Dan kali ini penulis hendak mengupas salahsatu sisi saja dari perbedaan ini, yakni dari segi hobi para suami dan istri.
Bila para suami ditanyai kegiatan apa yang sebisa mungkin dihindari untuk dilakukan bareng para istri, rata2 pasti jawaban yang umum kita dengar adalah menemani mereka belanja. Lha, wong udah kudu ngebayarin ( emangnya dompet suami itu ATM ? He3… just kidding ), mesti pegel juga pontang-panting membawakan tas belanja mereka, tambah dongkol lagi kalo untuk milih satu model baju saja sampai harus mencoba banyak pilihan warnanya.
Sementara kalo dari pihak istri ditanyakan hal yang sama, jawaban mayoritas yang sering kita dengar adalah bahwa para istri nggak suka dengan tipe suami yang punya hobi laksana “istri kedua”. Diajak mancing hayu, traveling bareng rekan se-gank oke, jalan-jalan ke night club nggak masalah, pokoke hobi yang berakibat suami bisa terlambat pulang kerumah saking keasyikannya menikmati hobi.
Dari beberapa rubric konsultasi psikologi yang penulis baca, kebanyakan sich para istri diminta “tabah” saja menghadapi tabiat sang suami yang kalau tidak dituruti malah suasana rumah tangga tambah panas. Bahkan disarankan, kenapa nggak sekali-kali sang istri ikut menyelami hobi sang suami, meski dianjurkan jangan malah istri yang lebih ketagihan. Yang penting, suami diingatkan bahwa komitmen utamanya adalah keutuhan rumahtangga, bukan egoisme suami semata.
Weekend sebenarnya waktu paling pas untuk bercengkerama dirumah, atau sesekali bisa juga pergi ke luar kota bila sedang libur panjang. Mungkin selama hari kerja frekuensi komunikasi yang jarang dapat dipenuhi lewat kualitas yang lebih baik di akhir pekan, bukannya menjadikan libur panjang sebagai pelarian : bapak pergi bareng teman satu klubnya dan ibu sibuk shopping bareng kawan2 arisannya, yach nggak match.
Penulis kasih masukan yang mungkin berguna bagi pasangan muda untuk aktivitas di akhir pekan. Jadi sabtu dan minggu untuk hari keluarga, tepatnya untuk anda berdua ( bila belum memiliki anak ) saling gotong royong membenahi rumah. Sang suami bisa mengepel, memasak dan mencuci pakaian, sementara sang istri bisa membereskan perkakas rumah tangga dan sesekali mencoba resep hidangan baru. Jadi tidak perlu tiap malam minggu menjadwalkan dinner atau nonton di luar rumah hanya untuk sekedar punya agenda formal bernama : “waktu berkualitas untuk berdua”.

HIMfamilyman : the ring

Diantara banyak jenis perhiasan berharga berbahan emas, seperti kalung, giwang, atau anting, cincin ternyata memiliki arti khusus tersendiri. Kata orang, bentuknya yang melingkar itu menandakan satu kesatuan alias “one never ending circle”. Demikian juga pengharapan banyak orang ketika mengucapkan janji saling setia dalam acara pemberkatan perkawinan, semoga kelak hanya maut yang memisahkan mereka dalam kehidupan fana ini. Lingkaran dengan bahan emas yang tersemat dalam jari manis menjadi tanda bahwa ikatan cinta itu kiranya boleh berputar dalam sukaduka mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga namun janganlah berakhir segenap kasih sayang yang terjalin.
Dan rasanya “aneh” sekali dalam satu kesempatan penulis melihat cincin tersebut terpasang pada jari seorang pria dalam suatu rapat kantor, meski di hari lain cincin tersebut tidak tampak dipakainya. Hhmmm… apakah bila sang suami memasang cincin tersebut artinya dia begitu merasakan suatu keteguhan dalam satu rumahtangga. Yang terpikir pertama kali di benak penulis adalah “oh, dia telah berkeluarga”. Mungkin bagi para wanita yang kesengsem dengan penampilan gagahnya akan berucap lirih,”Sayang, dia sudah ada yang punya”. J
Di masa pernikahan yang masih muda, ketiadaan cincin di jari manis akan menimbulkan pertanyaan banyak pihak, terutama dari pihak keluarga, walau sebenarnya ada tidaknya cincin tersebut di muka umum tidak menjamin kadar kesetiaan seseorang. Demikian juga nilai cincin yang dikenakan, tidak ada garansi bahwa seseorang yang memakai cincin berbahan berlian pasti level cintanya lebih tinggi kualitasnya ketimbang mereka yang mengenakan sekadar berbahan emas.
Dalam banyak adegan film terutama pas ceritanya menyangkut soal perceraian, kerap kali simbolisasi dari retaknya suatu hubungan adalah melepas cincin lalu membuangnya ke lantai. Emosi kadang bisa membutakan makna cincin tersebut bahwa : apa yang sudah dipersatukan Tuhan, tidak boleh (seenaknya) diceraikan manusia.
Hhhhmmm… jadi mau titip renungan nich buat anda pembaca ( terutama untuk sang suami sebagai kepala keluarga ) yang kini tengah tak tahan dengan kehidupan rumahtangga yang rasanya sulit ditemui jalan keluarnya. Coba kenang kembali saat2 dimana anda berdua gembira saat memilihkan cincin perkawinan, ingat kembali saat cincin tersebut dimasukkan ke jari manis pasangan sambil menatap wajah terindah yang pernah anda lihat seumur hidup, lalu pikir ulang : masa khan kami berdua harus menyerah semudah itu sementara kebahagiaan yang dituju bersama itu layak kami perjuangkan ?
Pernikahan bukan ajang egoisme siapa yang menang atas pasangan. Sesuatu yang sakral tentunya bukan hal yang bisa dijadikan permainan perasaan siapa yang terluka. Para jomblo saja susah cari pasangan dan belum terhitung pula yang sudah gigih pacaran tahunan akan naik ke jenjang pelaminan bisa gagal di tengah jalan, eh ini yang udah menikah malah pengen cerai ?! Saling introspeksi diri, napa…