Minggu, 26 Januari 2014

HIMstage : Kopi cinta ( Trio Kalonk )


Awal tahun 2014 ini, NAGASWARA banyak menelurkan artis-artis dangdut terbaru. Di antaranya adalah tiga gadis cantik; Mila Mimi, Lie Jepang dan Dhea, yang tergabung dalam group bernama Trio Kalonk. Bagi pecinta dangdut, Trio Kalonk memperkenalkan single perdana mereka, “Kopi Cinta” yang diciptakan oleh Aroel Swara. Yang menarik, selain konsep musik mereka yang unik, trio ini mememilik performa panggung sangat menarik.
 
Single dangdut pop progresif ini bercerita nikmat dan indahnya rasa cinta yang diberikan dengan rasa tulus. Meski baru terbentuk saat bergabung di NAGASWARA tahun ini, harmonisasi vokal Trio Kalonk tak perlu diragukan. Secara vokalisasi, Mimi, Lie dan Enchie memiliki karakter yang berbeda. Mimi misalnya, memiliki warna vokal Melayu. Lie lebih ngerock ( ia bahkan pernah menjadi pemenang kontes “RockDut” yang digelar Ahamad Dhani ). Dan Dhea berada di pop.
 
“Karakter suara yang berbeda ini, kita satukan untuk berdangdut ria. Bagi aku dan teman-teman, hal ini sangat variatif dan menarik,” kata Mimi, pentolan Trio Kalonk.

Kehadiran Trio Kalonk di blantika musik Tanah Air, tak dapat dilepaskan dari kebutuhan pasar dangdut yang luas dan beragam. Kalau disimak, trio ini membawa nama yang cukup unik, yakni Kalonk ( diambil dari nama Kalong ).
 
Secara filosofis, pemilihan nama ini memiliki makna bahwa manusia itu kadang beraktivitas terus hingga lupa waktu. Malam dijadikan siang, sebaliknya siang dijadikan malam. Kalong ( Kalonk ) adalah binatang yang beraktivitas di waktu malam, dan tidur di waktu siang. Tidak hanya itu, aksi dan busana panggung Trio Kalonk juga tak kalah menghebohkan.
 
Trio Kalonk terbentuk melalui audisi yang disebarkan melalui social media. Dari 70 orang penyanyi di wilayah Jawa Barat, tersaring tiga personil. Mereka kemudian di bawa ke Jakarta dan teken kontrak rekaman dengan NAGASWARA. Sejak berusia sangat muda, para personil Trio Kalonk sudah menjalani hobi menyanyi mereka sebagai sebuah profesi. Artinya, menyanyi bukan lagi hobi semata melainkan pilihan hidup.
 
“Masuk dapur rekaman dan diterima NAGASWARA adalah salah satu langkah terbesar kami. Untuk itu, Trio Kalonk berharap bisa diterima,” terang Mimi. (PR)
 
Artis                 : Trio Kalonk
Single               : “Kopi Cinta”
Cipt.                 : Aroel Swara
Label                : Big Indie NAGASWARA
 
 
Kontak :
-ViCkiE LoNtoH-
Radio Promotion
Nagaswara Music & Publishing
Mobile : 0812 900 1592
Pin : 237BDEC8  |  Twitter : @viclon8
http://youtube.com/nagaswaraofficial  |  http://nagaswara.co.id

HIMstage : Dan aku galau ( Fredy )


Fredy, pria kelahiran Medan 14 April 1984 ini memiliki bakat seni dan hobi membaca dan menulis sejak kecil.  Lahir dengan nama lengkap Muhammad Fredy Iskandar Saleh Harahap, tumbuh dan besar di lingkungan keluarga pecinta musik.  Inilah yang membuat bakatnya terasah dan keluarga besarnya mendukung kegiatannya  di dunia musik.
 
“ Saya dari kecil suka banget menyanyi dan membaca. Apapun saya baca mulai dari buku pelajaran, buku cerita, majalah, koran. Pokoknya semua saya baca, dan nggak tahu kenapa tiba-tiba saya mulai muncul keinginan menulis tiap kali saya selesai membaca.”

Sudah banyak karya yang tercipta dari tangannya. Diantaranya adalah lagu untuk pemenang ajang pencarian bakat X Factor Indonesia 2013 yaitu Fatin Shidqia Lubis. Fredy-lah sosok di balik ketenaran lagu kemenangan Fatin berjudul “Aku Memilih Setia,” dan juga lagu “Dia Dia Dia” yang menjadi hit single untuk album perdana Fatin. Kedua hit single itu sukses bertengger di chart radio, dan menjadi salah satu single terlaris secara digital.
 
Siap Bersolo Karir
 
Tak hanya jago menulis lagu, Fredy memiliki kemampuan menyanyi serta memiliki suara khas dan berkarakter. Bakat inilah yang membuatnya dikontrak oleh My Music Records & Artist  Management.
 
Dan Aku Galau adalah karya Fredy yang dipilih sebagai single perdananya untuk terjun dan meramaikan industri musik tanah air. Lagu dengan sentuhan musik pop yang harmonis ini bercerita tentang seseorang yang merindukan kehadiran pujaan hati yang dicintainya. Musiknya yang akrab di telinga dan lirik yang tulus dan mengalir menjadi kelebihan Fredy.  Single ini siap beredar mulai akhir Januari 2014.
 
Artist               : Fredy
Judul Lagu      : Dan aku galau
Composer       : Fredy
Album             : Single
Produksi         : My Music Records
@fredy_syafir   @mymusic_id
 
 
Kontak :
Teguh Prasetyo
MY MUSIC records+artist management
Jl. Caringin Barat Kav.10 Cilandak
Jakarta - 12430
Phone Office  : (021) 75903206  |  Mobile : 0812 8785 4363  |  BB pin : 25B6A1F2

Cakra Khan - Ashanty - Raffi Ahmad - Uya Kuya - Cinta Uya - Maria Calista - Marshall - Shelvie Bugenville - Tasya Tania - Fredy - Maruli - Asmara - Govinda - Astrid Margaretta - Davinci - Qiu 9 - Wonder Boys - Achikochi - So Cute - DNA - Tiffany

HIMstage : That’s enough ( Queen & Jacks )


Queen & Jacks adalah sebuah band yang beranggotakan Ells ( Vocal ), Rio ( Keyboard ),  Adi ( Drum ), Victor ( Bass ) dan Dimas ( Guitar ). Dibentuk di Jakarta tepatnya 30 Mei 2013.
 
Queen & Jacks bermakna 4 cowok & 1 cewek yang menjadi satu kekuatan untuk mewujudkan mimpi melalui musik dan mencoba meramaikan blantika musik Indonesia dengan Single yang berjudul “THAT’S ENOUGH”
 
Berawal dari sebuah pertemanan dan sama – sama menyukai musik,  mereka mencoba berkarya dan menciptakan lagu mereka sendiri yang berjudul THAT’S ENOUGH dengan bernuansakan Pop yang dibalut dengan sedikit sentuhan Dance. 

Memang tidak gampang menyatukan mereka dalam satu kesatuan yang menamakan dirinya Queen & Jacks ini karena mempunyai latar belakang genre bermusik yang berbeda-beda. Meskipun masing masing personilnya memiliki segudang pengalaman dalam bermusik mereka selalu berusaha dan belajar dalam hal bermusik.
 
Sebelum terbentuknya Queen & Jacks Victor ( Bass ) & Rio ( Keyboard ) adalah additional player dari Group Vocal PASTO dan Citra Scholastika,  sedangkan Ells ( Vocal ) sempat mengikuti ajang pencarian Penyanyi berbakat di TV Swasta.
 
Harapan kedepannya Queen & Jacks bisa memberikan dampak yang positif kepada belantika musik tanah air,  dengan bermodalkan doa, moral,  cinta, pengalaman dan semangat yang ingin terus maju dan memajukan musik tanah air.             
“ Maju terus musik Indonesia “
 
Twitter: @Queen_Jacks
Facebook: Queen & Jacks
Youtube: Queen & Jacks
 
 
Kontak :                                   
Wandi Pratama Putra @daengwandi
Artist Manager CBM Entertainment
Bb Pin: 28F80838
Mobile / Whatsapp: 087875296640
 
Jl. Summagung III Blok K5 no 2A
Kelapa Gading, Jakarta Utara 14240
T. 021 4522735
CBM Entertainment : Cherrybelle - Queen & Jacks - SAGA - Little Giants Band

HIMstage : Nggak mau pulang ( Yuny Rahayu )


Geliat musik dangdut di sepanjang jalur Pantura ( Pantai Utara Pulau Jawa ) begitu semarak dan tumbuh subur. Pentas dangdut bagi masyarakat pesisi itu, memang sudah menjadi panggung rakyat. Tak salah jika kemudian dangdut menjadi musik yang paling populer di Pantura. Dari wilayah inilah Yuny Rahayu dilahirkan.
 
Bergabung dengan NAGASWARA di tahun 2013 ini, Yuny merilis single perdananya yang berjudul “Nggak Mau Pulang.” Single remix dengan dasar musik dangdut koplo ini diciptakan oleh Endnag Raes. Single ini bercerita tentang pasangan kekasih yang sedang pacarann namun banyak godaan. Endang Raes menggambarkan gangguannya dalam konteks kekinian yakni BBM, SMS atau Misscall yang masuk.
 
“Tapi aku nggak mau pulang karena sedang asyik pacaran,” kata Yuny sambil tertawa.
 
Yuny adalah salah satu penyanyi dangdut di pentas-pentas dangdut di Pantura. Untuk melebarkan sayapnya di dunia dangdut, Yuny bahkan sempat meraih gelar juara 2 lewat acara “Tarung Dangdut MNCtv” tahun 2011. Pengalaman panjang sebagai penyanyi dangdut Pantura, ikut membentuk karakter Yuny menjadi penyanyi yang matang.
 
Sosoknya yang cantik dan vokal yang powerfull, lantas menarik hati seorang penyiar radio. Dari sang penyiar radio pula,  Yuny kemudian diarahkan ke label NAGASWARA. Bagi Yuny, semuanya seperti mimpi yang menjadi kenyataan.
 
“Awalnya aku nggak tahu kalau akan ke NAGASWARA. Aku kira ini semua impian penyanyi dangdut di panggung-panggung kecil seperti aku,” terang gadis kelahiran Karawang, Jawa Barat, 7 Juni 1992 ini polos. (PR)
 
Artis                 : Yuny Rahayu
Single               : “Nggak Mau Pulang”
Cipt.                 : Endang Raes
Label                : Big Indie NAGASWARA
 
 
Kontak :
-ViCkiE LoNtoH-
Radio Promotion
Nagaswara Music & Publishing
Mobile : 0812 900 1592
Pin : 237BDEC8  |  Twitter : @viclon8
http://youtube.com/nagaswaraofficial  |  http://nagaswara.co.id

Sabtu, 04 Januari 2014

HIMusiklopedia 2013


IIIHIMusiklopedia2013
Facebook / Line / Twitter / YM : himfiles
 
 
 
# Meneropong penyanyi dan/atau musisi pendatang baru
 
Pencarian talenta menyanyi melalui reality show di layar kaca sepertinya masih dianggap sebagai cara pintas untuk mendongkrak popularitas generasi baru talenta olah suara. Dalam kurun waktu 3-4 bulan selama masa karantina dan eliminasi, sang kontestan dipoles ke hadapan pemirsa agar layak jual. Tentu saja bumbu dramatisasi dalam menentukan siapa yang melaju ke tahap berikutnya sepertinya bisa membentuk fanbase yang ikut bertarung mencari pengaruh di dunia maya.
 
Adalah kompetisi The X-Factor Indonesia di RCTI vs The Voice Indonesia di Indosiar yang tadinya diprediksi bakal berlangsung sengit, justru malah berjalan tak seimbang. Di panggung televisi, ternyata faktor kualitas suara bisa “ditumbangkan” oleh faktor psikologis emosional dalam mengerek perolehan sms dan rating. Lihat saja beberapa “insiden” drama seperti ada kontestan yang lupa lirik, tingkah juri yang terkadang konyol dalam memberikan opini atas penampilan peserta, sampai ke soal salah kostum pun dikomentari ( padahal hal teknis begini bisa “dipermak” sebelum peserta naik pentas ).
 
Tahun 2014 nanti RCTI akan menggelar kembali Indonesian Idol yang mudah-mudahan bisa mematahkan “kutukan” bahwa sang pemenang justru kalah pamor dengan runner-up ketika memasuki persaingan secara riil di blantika musik tanah air. Dan kesan bahwa sang runner-up juga nggak terlalu kinclong prestasinya dibandingkan dengan bakat yang ditemukan oleh label rekaman via “audisi” di YouTube, he3... Khusus season depan, menarik untuk dicermati apakah acara unggulan ini tidak disusupi oleh kepentingan politik tertentu.
 
Oh, ya di tengah meredupnya fenomena boyband/girlband racikan lokal – entah itu karena jenuh, materinya tidak lagi nendang, maupun ada personelnya yang memutuskan hengkang untuk bersolo karir – ada kiprah para jebolan acara bakat bernuansa K-Pop tahun 2012 yang lumayan mencuat di pertengahan tahun 2013 ini, yakni : S4 dan S.O.S. Jika menyimak hasil tempaan dan kerja keras mereka, rasanya tak berlebihan dengan menyitir ungkapan khas Bebi Romeo bahwa : “Papa bangga sama kamu” : )
 
 
# Media TV & radio
 
Acara musik pagi yang lumayan merajai beberapa tahun terakhir ini ternyata (masih) tidak cocok diformulasikan untuk slot prime-time televisi di malam hari. Lihat saja genre program layar kaca antara pukul 6 petang hingga 10 malam, rata-rata isinya sinetron, talkshow berita, atau varietyshow berbalut komedi ( slapstick ). Adapun acara musik seperti Indonesian Idol, The X-Factor, The Voice, Gebyar BCA, atau New AFI itu hanya program mingguan yang sifatnya pun musiman, bukan reguler tiap hari ada di jam tayang utama.
 
Untuk pelanggan tv berbayar lumayan mendapatkan porsi tontonan musik yang beragam, bisa dipilih antara : MTV, Channel [V], i-Concert, Trace, atau NatGeo Music. Sedangkan untuk konten musik tanah air tergantung operator pay-tv yang tersedia, misal : OrangeTV punya Dangdut Channel dan TopHits, Indovision memiliki saluran in-house MNC Music Channel, dan grup FirstMedia punya MIX dan Dangdut. Namun dari berbagai kanal lokal tersebut pun, penulis kira baru sebatas saluran “tempelan” yang lebih mirip sebatas pemutar videoklip ketimbang wadah tontonan apresiasi yang digarap serius.
 
Mayoritas stasiun radio pastinya masih menjadikan musik sebagai unggulan program siarannya. Untuk pendengar di Jakarta, sepertinya dengan karakteristik kaum urban maka kecenderungan beberapa pengelola radio mengubah format siaran yang tadinya segmented kemudian memutar haluan menjadi “hits player” seperti tidak terhindarkan. Secara pribadi bagi penulis sich yang demen ngupingin format radio di era 80-90an dari pagi sampai malam, maaf : kemasan rata2 radio ibukota sekarang jadinya membosankan !    
 
Untunglah dengan adanya berbagai aplikasi radio streaming yang terpasang di smartphone, pilihan penulis untuk mendapatkan rentang wawasan lagu yang lebih variatif bisa terakomodir. Tinggal search di TuneIn, Xiaa Live, Pandora Radio, atau Nux Radio, stasiun2 radio dari berbagai belahan nusantara hingga mancanegara bisa dinikmati.
 
Pergeseran cara menyapa penikmat radio bukan lagi secara personal, tapi lewat kontak status pesan di facebook atau live tweet. Beberapa announcer radio tidak lagi menempatkan diri sebagai teman sharing pendengar, namun asyik ngobrol dengan partner siarannya atau dengan celotehannya sendiri. Konten musik yang bejibun tidak diimbangi dengan informasi menarik di balik pembuatan lagu yang diputar itu sendiri, seakan menyebut judul dan nama penyanyi yang mempopulerkannya dirasa cukup memadai, padahal info tentang siapa pencipta lagunya, siapa yang mengaransemen lagunya, apa label rekamannya, dsb bisa jadi bentuk pengelola radio dalam mengapresiasi karya musik.

Dari hasil diskusi dengan seorang founder radio online beberapa waktu lalu, penulis menyimak masa depan stasiun radio ibukota bukan lagi di Jakarta, namun di pelosok daerah yang potensi iklannya lebih menjanjikan. Maklumlah, melihat gejala gaya hidup yang ada sepertinya penduduk Jakarta dan sekitarnya bukan lagi warga yang suka “mendengarkan”, melainkan suka “melihat”. Yang disetel bukan lagi perangkat radio, namun menikmati puluhan saluran tv berlangganan yang tarif abodemennya kian terjangkau.
 
 
# Sekilas fenomena 2013
 
Fatin Shidqia Lubis. Gadis berusia belia ini cukup menghebohkan The X-Factor Indonesia sejak tahapan audisi. Bahkan video cover version lagu “Grenade” dipasang pula pada situs resmi Bruno Mars, penyanyi lagu aslinya. Fenomena gerilya para Fatinistic membela idolanya ini tak kalah heboh di jejaring sosial, terlebih saat penyanyi idolanya dicap sering lupa lirik dan kualitas olah suaranya masih “mentah” saat live show. Namun mayoritas kritikan itu seolah mereda dengan sendirinya saat lagu perdananya “Aku memilih setia” dilepas ke berbagai stasiun radio dan berhasil memuncaki puluhan tangga lagu dalam waktu relatif bersamaan.
 
25 Agustus 2013. Setelah 20 tahun tragedi konser Lebak Bulus, Metallica datang kembali dengan membawa nostalgia masa muda para penggemarnya dengan mengembalikan imej bahwa nonton konser rock metal tak perlu sampai anarkis dan bikin rusuh khan. Bagi para penikmat musik cadas dan rata2 pengamat musik pasti setuju bahwa ditengah serbuan acara manggung artis2 K-Pop, konser mereka di stadion utama Gelora Bung Karno layak dinobatkan sebagai konser terbaik di tahun 2013, bahkan ada yang berani menyebut penampilan mereka sebagai konser terbaik di tanah air sepanjang 1 dekade terakhir ini. Wow ! ( NB: sayangnya AeroSmith gagal mentas di Jakarta )
 
Sementara itu konser musisi dan grup band Indonesia sendiri beritanya masih kurang menggembirakan. Disamping kabar bentrokan antar penggemar sendiri, pula mental penonton yang maunya gratisan, kadang membuat suasana di sekitar panggung menjadi kurang nyaman. Karcis sudah ludes, tapi mereka tetap memaksa masuk tanpa bayar untuk menyaksikan musisi kesayangannya tampil.   
 
Sempat ada kisah memprihatinkan tentang salahsatu musisi band yang disiram air keras. Pula kontroversi kepantasan gratifikasi tentang pemberian gitar dari personel Metallica kepada pakde Jokowi, gubernur DKI Jakarta. Noah dan Slank dibuatkan film semi-dokumenter nich.  Khusus Slank yang “nggak ada matinya” itu, salam peace-love-unity-respect buat konser perayaan ulang tahunnya yang ke-30 di GBK Senayan.
 
Setelah sukses menggelar acara ultah “X-Factor around the world” Agustus 2013 lalu, mungkinkah RCTI akan membuat program berkonsep serupa dengan tajuk “Idols around the world” yang mempertemukan beberapa pemenang kontes serupa di mancanegara dalam satu panggung ? Last but not least, jangan lupa setelah demam tarian Gangnam style di tahun 2012, maka di tahun 2013 ada kehebohan “Harlem shake”, yang sepertinya menularkan trend acara joget massal di layar kaca belakangan ini.
 
 
# Merekam industri musik
 
Apa kabar industri musik rekaman nasional kita ? Berkaca dari ditutupnya outlet Aquarius Mahakam, tampaknya memang recording label kita tak bisa menghindari lagi untuk menempuh penjualan lagu secara digital. Mengharapkan masyarakat dididik untuk membeli ( baca : mengunduh )  secara legal mungkin tidak bisa dalam waktu singkat, tapi itu harus segera dimulai bila tak mau industri rekaman berdarah-darah terus. Dengan akses internet yang kian cepat dan terjangkau, seharusnya tidak ada kendala dalam jalur distribusi online, problemnya adalah ketegasan (perangkat) hukum.
 
Sudah berulangkali ada seruan untuk memberantas pembajakan, namun masih sebatas normatif di ucapan belum di tindakan, padahal aturan hukumnya sudah ada. Pada akhirnya sebuah  lagu bukan lagi dianggap sebagai pencapaian seni yang mesti dihargai karya ciptanya, namun tools pemasaran agar sang musisi mendapat panggilan manggung. Label rekaman yang tadinya fokus sekedar memproduksi album, kini harus memasuki ranah manajemen artis pula agar bisa survive.
 
Kita tidak lagi mendengar pencapaian prestasi seperti : oh si penyanyi A atau grupband Z mendapatkan penghargaan multi platinum karena berhasil menjual ratusan ribu hingga jutaan copy. Atau lagu si artis berhasil menduduki chart radio2 bergengsi selama beberapa minggu. Tolok ukurnya berganti menjadi bahwa tembang si artis sukses bertengger di peringkat papan atas RBT operator selular tertentu. Btw, omong2 soal layanan RBT, cuplikan lagu hits apa yang pembaca pasang belakangan ini di handphone sebagai nada dering ?
 
Kecenderungan yang penulis amati belakangan ini, beberapa label rekaman pun kini merambah bisnis EO konser artis dan memproduksi film berikut soundtracknya. Untuk mendukung line-businness baru ini, mereka memperkuat basis penggemar dengan eksis berinteraksi di jejaring sosial sampai chat forum messenger. Sesuatu yang mungkin dulunya hanya sebatas bikin fansclub, tapi kini adalah memelihara pasar industri itu sendiri agar tidak tergerus oleh banjirnya para artis2 pendatang baru di kemudian hari.
 

# Label & artist management
 
Diantara duel SM*SH versus CherryBelle, ada Coboy Junior dan JKT48 yang berhasil mencuri ceruk pasar boyband/girlband tanah air. Mengenai JKT48, kiprah girlband yang bersaudara dengan AKB48 ini sukses merebut penghargaan Yahoo! Indonesia sebagai sosok yang memiliki komunitas “die-hard fans” yang menggurita dan luar biasa eksis. Lihat saja dengan jumlah personel grup mereka yang lumayan terbilang “keroyokan” yang bagi sebagian orang membingungkan, tokh justru menjadi sumber inspirasi buat dikomersilkan lewat penjualan buku profil yang bisa didapatkan bagi para penggemarnya.
 
Bukan jualan kaset, tapi jualan merchandise. Inilah lahan pemasukan baru yang sepertinya kurang diantisipasi oleh kebanyakan manajemen artis kita. Lihat saja Agnes Monica yang terbilang piawai “menjual” namanya untuk dijadikan model iklan berbagai produk sampai merilis varian parfum dengan brand-nya sendiri, meski yach sori nich langkah awalnya untuk “go international”-nya dengan membuat album di mancanegara tergolong kurang sukses.
 
Kecenderungan melakukan penjualan cd fisik lewat jaringan minimarket dan restoran fastfood pun belakangan ini dapat dibilang tergolong stagnan. Selain nyaris tanpa ada terobosan baru, cd fisik belakangan ini bukan prioritas kebutuhan bagi pelanggan yang datang ke outlet mereka. Malah bisa jadi untuk sebagian konsumen akan merasa bete kalau tiap berhadapan dengan kasir harus menghadapi tawaran untuk membeli koleksi cd yang konten lagunya pun belum pernah didengarnya. Namun tantangannya adalah dengan semakin bagusnya koneksi internet, alunan lagu tidak lagi sebatas disimpan dalam format audio umum seperti mp3, bahkan tampilan visual videoklip musisi yang tadinya dimaksudkan sebagai materi promo di dunia maya pun kini bisa diunduh dengan mudah sebagai koleksi. Sebuah dilema ?
 
Meski mungkin tidak terlalu vulgar terendus seperti lakon para artis sinetron, tak bisa dipungkiri ada beberapa manajemen artis yang melancarkan modus “settingan” untuk mendongkrak popularitas penyanyi dan/atau grupband asuhannya dengan cara memunculkan kisah “kontroversial” supaya mendapat liputan luas oleh awak media hiburan. Yang paling mudah tentu memanfaatkan polemik di dunia maya supaya lekas menjadi trending topic, misalnya si penyanyi A punya konflik dengan musisi B dan mengumbarnya di twitter. Bila tergolong “parah”, siap2 saja pewarta infotainment akan dengan “senang hati” mengundang mereka yang bertikai untuk tayang di slot programnya. Tapi tetap saja yang paling mengena sebagai senjata ampuh agar sang musisi mendapat tempat di hati penggemarnya adalah : karya2 lagu hits fenomenal mereka.
 
 
# Secercah prediksi 2014
 
Tahun 2014 kali ini diidentikkan dengan tahun pemilu nasional, tahun pemberlakukan BPJS, tahun bola seiring Piala Dunia di Brazil, dan untuk industri musik tanah air : inilah tahun kebangkitan musik dangdut ! Mengapa penulis pakai tanda seru, karena kalau menurut salahsatu judul lagunya Project Pop : dangdut is the music of my country. Yup, saatnya dangdut kembali menjadi tuan rumah dan musik yang dihormati di negerinya sendiri. Syukur2, dangdut bisa jadi komoditas ekspor industri kreatif unggulan selain sinetron2 yang kini banyak tayang di beberapa negara tetangga, he3...  
 
Tahun2 sebelumnya, ranah blantika tanah air dibanjiri oleh genre musik pop melayu sampai boyband/girlband yang mengacu ke K-Pop. Menurut beberapa music director yang penulis ajak sharing bilang bahwa ada peningkatan kiriman materi lagu dangdut dari produser rekaman ke stasiun radionya akhir2 ini. Gejala kembalinya dangdut bakal hapenning tersebut juga penulis rasakan saat menerima banyak artikel press rilis untuk diunggah ke blog jelang tutup tahun 2013 ini.
 
Booming-nya lagu “Buka dikit joss” yang dilantunkan oleh Juwita Bahar dengan gimmick demam joget yang “diaransemen” oleh Cesar @YuKeepSmile_TTV ( acara yang juga turut mengembalikan popularitas lagu lawasnya bang Rhoma Irama : “Kata Pujangga” ), tak pelak ikut mengerek tembang hits dangdut lainnya yang sudah bikin heboh di daerah2 untuk naik ke level nasional seperti : Kereta malam ( Imelda ), Bang Jali ( Lynda Moymor ), dan Direject aja ( Jenita Janet ). Jadi terkenang sekitar beberapa tahun lalu waktu, saat lagu2 dangdut seperti : “SMS”, “Keong racun”, “Pacar lima langkah”, dan “Alamat palsu” menjadi best seller di kancah bursa nada sambung : )
 
Prediksi bakal mewabahnya musik dangdut di tahun 2014 ini pun sepertinya kian terdongkrak oleh banyaknya tim sukses para caleg yang akan memakai jasa para penyanyi dangdut tersebut untuk mencairkan suasana kampanye lapangan, mulai merekrut dari yang kelas elite hingga kasta organ tunggal. Numpang curhat dikit : sebenarnya penulis kangen loch dengan genre dangdut konvensional yang mengusung alunan suling dan gendang sebagai instrumen utamanya, bukan yang di-remix koplo ( atau yang dipermak oleh house music ) seperti sekarang, he3...
 
Jadi apakah anda termasuk yang setuju kalau tahun 2014 adalah : the return of dangdut ? Siap digoyang ngebor, goyang ngecor, goyang gergaji, goyang patah-patah, goyang iwak peyek, goyang itik, goyang oplosan, goyang yang iya-iyalah, dan varian goyang2 lainnya ? Tarik mang ... : )

Minggu, 29 Desember 2013

HIMstage : Tak pernah ternilai ( Last Child )


Sibuk dengan kegiatan masing-masing nggak membuat Virgoun ( vokal, gitar ), Mamie ( gitar ), Dimaz ( bass ) dan Ipank ( drum ) nggak lupa untuk kembali ke rumah musik mereka, Last Child. Setelah menempa telinga pendengar musik Tanah Air lewat barisan lagu dalam album Our Biggest Thing Ever, #OBTE kini kuartet ini kembali dengan single terbaru mereka, Tak Pernah Ternilai.
 
“Selain manggung belakangan kami juga disibukan dengan kehidupan masing-masing. Mamie dengan keluarganya, Dhimaz yang sibuk dengan clothing dan hidup barunya, Ipank yang sibuk bolak-balik Jakarta – Pelabuhan Ratu ngurus ibunya sama gue pribadi yang lagi fokus sama proyek gitar handmade yang gue desain sendiri. Tapi ujungnya balik lagi ke Last Child. Mau gimana juga, band in ijuga harus terus bergerak,” ujar Virgoun mewakili rekan-rekannya.
 
Sibuk dengan urusan pribadi nggak bikin mereka lupa. Nggak hanya tentang rekaman, tapi juga mengembangkan diri secara musikalitas. Pendewasaan diri itu terdengar nyata di Tak Pernah Ternilai dimana nuansa country kental terasa.

“Lebih ke back to to the roots sih. Berkacanya malah ke musik 90an dan sebelumnya. Banyak kami kami jadiin rolemodel untuk musik Last Child ke depannya. Gue ngasih unsur country dan blues, Mamie bawa rock n roll, Ipank sentuhan alternatif dan Dimaz yang ngasih unsur punk rocknya. Semuanya dijadiin satu. Juga dari sound sampai ke fashionnya. Overall sih lebih matang dan terkonsep,” ujar Virgoun.
 
“Oh iya, cara nyanyi gue juga berubah pastinya. Untuk ngembanginnya gue belajar sama nyokap yang memang penyanyi blues pas muda dulu. Belajar banyaklah dari beliau,” tambah sang vokalis lagi.  Last Child dikenal selalu berhasil untuk menciptakan lagu yang memiliki nyawa hingga membuat hampir semua yang mereka bawakan memiliki makna tersendiri. Begitu juga dengan Tak Pernah ternilai ini, dimana kisah cinta dari sang vokalis, Virgoun jadi latar belakang idenya. Sebuah kondisi dimana sebuah usaha untuk memperbaiki sebuah hubungan nyatanya nggak mendapat respon positif dari pasangan atas kesalahan yang sulit dimaafkan.
 
“Ide dasarnya sederhana, dari pengalaman sendiri. Gue bikin salah, menyesal  dan berusaha untuk memperbaiki tapi nggak digubris. Mungkin kesalahan yang gue buat itu fatal sampai dia putusin hubungan gue sama dia,” ujar Virgoun sang vokalis.
 
Membangkitkan nyawa sebuah lagu nggak mudah dan itulah tantangan yang ditemui oleh Last Child dalam proses kreatif yang mereka lakukan. Virgoun yang membuat lagu ini mengaku jika membuat lagu itu mudah, namun membangkitkan soul dari lagu itu sendiri yang cukup sulit. Ketika lirik dan nada dasar sudah ketemu, kemudian bagaimana caranya mereka untuk menyusun aransemen yang akan membuat lagu ini lebih mendalam.
 
“Lagu ini ada dalam waktu yang cukup singkat, kurang lebih setengah jam. Liriknya juga mengalir keluar begitu saja. Gue semakin galau semakin keluar lagu-lagu lainnya. Yang sulit adalah ke proses aransemen dan produksinya. Kami harus mondar-mandir  ke studio untuk merekam ulang. Revisi karena temponya nggak pas. Untuk membuat perbedaan dengan lagu-lagu sebelumnya, juga bikin lebih dalam, lagu ini juga ditambahin dengan string,” sergah Virgoun lagi. 

Penilaian matang atau tidaknya lagu ini juga lewat produser Last Child, Ibu Morin Chandra dari dr.m. Tantangan untuk single berikutnya dari Last Child ini memang dirasakan sangat berat karena harus bisa menandingi kesuksesan single mereka sebelumnya yaitu Seluruh Nafas Ini. Ada beberapa kandidat lagu yang diberikan sebelum akhirnya pilihan jatuh pada lagu Tak Pernah Ternilai yang dirasakan memiliki lirik dan nada yang sangat kuat. Penilaian tersebut langsung digarap total oleh para personel Last Child.
 
“Ketika beliau bilang begitu, gue dan anak-anak (personel Last Child) langsung komit untuk berusaha ngasih input yang bagus. Nyari sound yang pas, pemilihan nada yang pas juga lewat instrument dan eksplor lagi vokal gue. Hasilnya begini, gue sih puas,” papar sang vokalis. Single Tak Pernah Ternilai tidak hanya menjadi senjata baru Last Child dalam mengarungi blantika musi Indonesia ini, tapi juga diharapkan bisa menjadi jembatan untuk album terbaru mereka.
 
Sekilas tentang Last Child

Last Child merupakan grup musik asal Indonesia yang dibentuk pada 11 Januari 2006. Di bawah naungan label dr.m, Last Child menjadi lebih berkembang. Setelah sukses dengan single Diary Depresiku, Pedih, dan Percayalah itu, Last Child kemudian merilis album Our Biggest Thing Ever di seluruh gerai KFC indonesia di tahun 2012 dan mendapatkan multi platinum award. Di album ini, mereka juga merangkul Gisel, di lagu Seluruh Nafas Ini yang menjadi single album mereka dan berhasil bertahan menjadi salah satu dari top singles yang ada di industri musik Indonesia.
 
Twitter : @myLASTCHILD |  Facebook : Last Child
Video Lirik #TPT
Youtube : LAST CHILD TV
 
LAST CHILD -  “TAK PERNAH TERNILAI”
Composer : Virgoun Teguh Putra
Producer : Morin Chandra
Publisher : dr.m
Mixing & Mastering : Jason O’ Bryan
Photograph: Pio Kharisma http://www.piokharisma.com/
Wardrobe: Bloop and Endorse
(P) n (C) 2013, dr.m 
 
 
Kontak :
Wisye Batubara
Radio & Print Media Promotion
@myLASTCHILD | @ashillazhrtiara | @PAPERPLANErock
HP & WA: 0812 2099 9979 | @germaniari
@drm_music | @drm_digital

HIMstage : Mendadak rindu ( Beage )


BEAGE, Band Yang Tidak Akan Bubar
 
Setelah lama mati suri akhirnya BEAGE bangkit lagi dengan lagu yang menggetarkan hati. Band yang sempat booming dengan lagu “Sendiri Lagi” ini kembali dengan genre yang jauh berbeda.
 
Band yang dikenal sebagai band anak muda dengan genre Funpop ini lebih identik dengan lagu berirama riang dan upbeat ini, kembali dengan single teranyar bertajuk “Mendadak Rindu”.

Kembali dengan image yang lebih dewasa lagu ini diyakini dapat mengobati para penggemar BEAGE yang sudah rindu  dengan band yang digandrungi anak muda ini.
 
Band yang terbentuk 20 September 2003 ini digawangi Alosh ( vocal ), Andi ( guitar ), Wanted ( guitar ) dan Iman ( drummer ). BEAGE ingin memberikan suasana baru pada BEAGE yang juga sempat mengeluarkan 2 Album yang bertajuk “Love Song” dan “Kekasih Idaman”.
 
Dan mereka telah mengeluarkan 6 single antara lain “Sendiri Lagi”, “Tak Serendah Yang Kau Kira (TSYKK)”, “Kekasihku Yang Pergi”, “Kekasih Idaman”, “Malam Ini” dan “Cepat Kembali”. Berharap single terbarunya “Mendadak Rindu” bisa sukses dan di terima di masyarakat seperti  single – single sebelumnya. Hidup Musik Indonesia
 
Lagu     : “Mendadak Rindu” 
Artis     : @BeageOfficial
Genre   : POP
Label    : Independent Musik
 
 
@TheBomBoms / Sofwan 
H : +62.817.463462 | P : 26C11534